Gerimis mengguyurkan kota bandung ini dingin angin sepoi sepoi membuat aku
terlena dalam melihat pemandangan yang indah ini diatas tepatnya di kosan aku.
Sambil mengingat ingat 5 bulan kemarin apa yang aku lakukan.
Awal masuk di UPI menjalani moka(opsek univ) setelah itu memasuki dunia
perkuliahan. Sebelum masuk di dunia perkuliahan yang aku bayangkan adalah
kuliah itu bebas tidak seperti sekolah yang harus tiap hari masuk dan pelajaran
yang banyak. Tapi??? Apa yang aku pikirkan ternyata tidak sesuai banyak
tuntutan ini itu lah, harus ini itu lah tidak seperti sekolah yang tidak ada
tuntutan. Kata orang kuliah itu harus mandiri semuanya serba cari sendiri kalau
tidak cari sendiri tertinggal informasi, ya memang benar.
2 minggu aku jalani kuliah dengan target harus bisa harus kejar teman teman
‘ingat kamu itu seperti anak experimen’ dari situ aku ingat belajar sungguh sungguh
tati teman aku ketika di pesantren. Aku ikuti cara dia yang tak pernah letih
belajar yang hanya ingat kepada orang tuanya yang membiayayi puluhan juta.
Salut!!!
Memasuki dunia baca katakana dan hiragana sedikit mulai sedikit terasa
sulit terlebih aku di suruh percakapan dan baca belum bisa baca masih seperti
anak TK percakapan masih seperti anak
yang berusia 2 tahun, kosa kata pun aku tidak tahu. Mulai ada rasa tidak suka
karena ‘apa sih itu hurufnya seperti itu’.
Mulai tidak buka buku pelajaran khusus hanya mata kuliah umum saja aku
pelajari. Hari demi hari ketika waktunya pelajaran khusus aku tidak masuk
karena ga mau berurusan pelajaran tersebut, 7 hari aku tidak masuk pelajaran
khusus. Terbuka atau curhat kepada teman dekat yang di pesantren.
Aku bercerita mengeluh dengan jurusan yang aku tidak ingin, mereka memberi
semangat dan mewajarkan. Saat itu yang aku pilih berbicara kepada ketua jurusan
untuk pindah jurusan. Ketika sudah melepas kesal, aku di minta untuk menghadap
pembingbing akademik. Terjadi perbincangan antara aku dan beliau. Beliau
bercerita tentang pengalaman hidupnya, berbagai cara beliau coba untuk meraih
BISA, wal hasil beliau mahir dalam bahasa jepang bahkan beliau sekarang sedang
merencanakan bisnis oleh orang jepang.
“makasih ya pak”
“ya sama-sama, kalau mau bercerita pengalaman bapak masih banyak”
“ya pak”
“assalamualaikum”
“waalaikumsalam”
Aku bercerita kepada orang tua.
“ada 3 solusi yaitu 1.bisa pindah jurusan tapi ketika semester 4, 2. 2
tahun kuliah mata kuliah umum, ga usah ambil bahasa jepangnya ga apa apa mau
masuk ya silahkan,tidak juga ga apa apa. 3. Mau ikutan snmptn lagi tahun depan
silahkan. 4. Atau mau tunggu 2 tahun di rumah (waw lama banget)” jelasku
“ya itu mah terserah teteh”
Semua keputusan di tanganku. Seiring berjalannya waktu hari hari telah
lewat aku ambil keputusan pindah jurusan tunggu 2 tahun hanya mengontrak mata
kuliah umum saja.
Mulai tidak masuk kelas, lama kelamaan 1 kelas tahu dan dosenpun tahu. Aku
maunya tidak ada yang tahu tapi ya sudahlah sudah terjadi, apa boleh buat.
Sekarang orang tua aku yang kebingungan. Masalahnya selama 2 tahun hanya
mengambil mata kuliah umum saja RUGI 30 juta masuk di UPI lewat jalur UM.
Terjadi permasalahan antara aku dan orang tua, yang beda pendapat dan
presepsi. Aku inginya B orang tua inginnya A, bertolak belakang banget. Penjelasan orang tua kepadaku detail sekali,
aku faham tapi belum bisa terima semuanya.
“teteh jangan mengambil hawa nafsu, itu tuh godaan. Mamah rasa teteh mampu
untuk mempelajarinya hanya TIDAK SUKA saja, mau nilai seberapapun ga apa apa,
yang penting masuk sayang sama uangnya, 2 tahun teteh ga dapat apa apa.”
Aku jawab hanya kata “ya udah liat saja nanti” apa aku tersihir oleh perkataan
orang tua TIDAK. Hampir 3 bulan orang tua dan aku bebeda pendapat. Berbagai
cara sudah di jalankan termasuk aku di coba pindah universitas. Awalnya aku
tidak ingin setelah berpikir “ya aku pindah universitas”. Coba Tanya kepada
teman bisa tidak pindah menerima mahasiswa semester 2 ternyata bisa. Aku
memberi tahu kepada mamah bahwasannya di IAIN SERANG bisa menerima mahasiswa
pindahan. Sms tersebut di baca oleh adik
kebetulan aku sms lewat hpnya dan kebetulan juga orang tua sedang menjenguk
adik yang sedang di pesantren.
“mah teteh jangan pindah universitas, sayang… kan upi itu negri”
Pembicaraan lewat telephonepun terjadi percakapan.
“percuma masuk ga bisa apa apa, ga mau usaha mah”
“oh ya udah geh, teteh bener mau tunggu 2 tahun?”
“YA” sambil bergumam
“bener?” meyakinkan
“YA MAU TUNGGU 2 TAHUN”
Tidak terjadi percakapan lagi.
Setelah lama menunggu 3 minggu aku tidak masuk bahasa jepang. Atas doa dari
orang tua, dan orang tua pun tidak ridha kalau aku pindah jurusan,doa dari
teman teman,keluargaku dan orang yang kenal tau aku. Aku kembali kepada bahasa
jepang meskipun teman teman kelas
menganggap aku orang ANEH. Kalau aku jadi mereka aku akan dekati orang tersebut
dan kasih semangat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar