Senin, 24 September 2012

Kembali lagi..



Gerimis mengguyurkan kota bandung ini dingin angin sepoi sepoi membuat aku terlena dalam melihat pemandangan yang indah ini diatas tepatnya di kosan aku. Sambil mengingat ingat 5 bulan kemarin apa yang aku lakukan.
Awal masuk di UPI menjalani moka(opsek univ) setelah itu memasuki dunia perkuliahan. Sebelum masuk di dunia perkuliahan yang aku bayangkan adalah kuliah itu bebas tidak seperti sekolah yang harus tiap hari masuk dan pelajaran yang banyak. Tapi??? Apa yang aku pikirkan ternyata tidak sesuai banyak tuntutan ini itu lah, harus ini itu lah tidak seperti sekolah yang tidak ada tuntutan. Kata orang kuliah itu harus mandiri semuanya serba cari sendiri kalau tidak cari sendiri tertinggal informasi, ya memang benar.
2 minggu aku jalani kuliah dengan target harus bisa harus kejar teman teman ‘ingat kamu itu seperti anak experimen’ dari situ aku ingat belajar sungguh sungguh tati teman aku ketika di pesantren. Aku ikuti cara dia yang tak pernah letih belajar yang hanya ingat kepada orang tuanya yang membiayayi puluhan juta. Salut!!!
Memasuki dunia baca katakana dan hiragana sedikit mulai sedikit terasa sulit terlebih aku di suruh percakapan dan baca belum bisa baca masih seperti anak TK  percakapan masih seperti anak yang berusia 2 tahun, kosa kata pun aku tidak tahu. Mulai ada rasa tidak suka karena ‘apa sih itu hurufnya seperti itu’.
Mulai tidak buka buku pelajaran khusus hanya mata kuliah umum saja aku pelajari. Hari demi hari ketika waktunya pelajaran khusus aku tidak masuk karena ga mau berurusan pelajaran tersebut, 7 hari aku tidak masuk pelajaran khusus. Terbuka atau curhat kepada teman dekat yang di pesantren.
Aku bercerita mengeluh dengan jurusan yang aku tidak ingin, mereka memberi semangat dan mewajarkan. Saat itu yang aku pilih berbicara kepada ketua jurusan untuk pindah jurusan. Ketika sudah melepas kesal, aku di minta untuk menghadap pembingbing akademik. Terjadi perbincangan antara aku dan beliau. Beliau bercerita tentang pengalaman hidupnya, berbagai cara beliau coba untuk meraih BISA, wal hasil beliau mahir dalam bahasa jepang bahkan beliau sekarang sedang merencanakan bisnis oleh orang jepang.
“makasih ya pak”
“ya sama-sama, kalau mau bercerita pengalaman bapak masih banyak”
“ya pak”
“assalamualaikum”                             
“waalaikumsalam”
Aku bercerita kepada orang tua.
“ada 3 solusi yaitu 1.bisa pindah jurusan tapi ketika semester 4, 2. 2 tahun kuliah mata kuliah umum, ga usah ambil bahasa jepangnya ga apa apa mau masuk ya silahkan,tidak juga ga apa apa. 3. Mau ikutan snmptn lagi tahun depan silahkan. 4. Atau mau tunggu 2 tahun di rumah (waw lama banget)” jelasku
“ya itu mah terserah teteh”
Semua keputusan di tanganku. Seiring berjalannya waktu hari hari telah lewat aku ambil keputusan pindah jurusan tunggu 2 tahun hanya mengontrak mata kuliah umum saja.
Mulai tidak masuk kelas, lama kelamaan 1 kelas tahu dan dosenpun tahu. Aku maunya tidak ada yang tahu tapi ya sudahlah sudah terjadi, apa boleh buat. Sekarang orang tua aku yang kebingungan. Masalahnya selama 2 tahun hanya mengambil mata kuliah umum saja RUGI 30 juta masuk di UPI lewat jalur UM.
Terjadi permasalahan antara aku dan orang tua, yang beda pendapat dan presepsi. Aku inginya B orang tua inginnya A, bertolak belakang banget.  Penjelasan orang tua kepadaku detail sekali, aku faham tapi belum bisa terima semuanya.
“teteh jangan mengambil hawa nafsu, itu tuh godaan. Mamah rasa teteh mampu untuk mempelajarinya hanya TIDAK SUKA saja, mau nilai seberapapun ga apa apa, yang penting masuk sayang sama uangnya, 2 tahun teteh ga dapat apa apa.”
Aku jawab hanya kata “ya udah liat saja nanti” apa aku tersihir oleh perkataan orang tua TIDAK. Hampir 3 bulan orang tua dan aku bebeda pendapat. Berbagai cara sudah di jalankan termasuk aku di coba pindah universitas. Awalnya aku tidak ingin setelah berpikir “ya aku pindah universitas”. Coba Tanya kepada teman bisa tidak pindah menerima mahasiswa semester 2 ternyata bisa. Aku memberi tahu kepada mamah bahwasannya di IAIN SERANG bisa menerima mahasiswa pindahan.  Sms tersebut di baca oleh adik kebetulan aku sms lewat hpnya dan kebetulan juga orang tua sedang menjenguk adik yang sedang di pesantren.
“mah teteh jangan pindah universitas, sayang… kan upi itu negri”
Pembicaraan lewat telephonepun terjadi percakapan.
“percuma masuk ga bisa apa apa, ga mau usaha mah”
“oh ya udah geh, teteh bener mau tunggu 2 tahun?”
“YA” sambil bergumam
“bener?” meyakinkan
“YA MAU TUNGGU 2 TAHUN”
Tidak terjadi percakapan lagi.
Setelah lama menunggu 3 minggu aku tidak masuk bahasa jepang. Atas doa dari orang tua, dan orang tua pun tidak ridha kalau aku pindah jurusan,doa dari teman teman,keluargaku dan orang yang kenal tau aku. Aku kembali kepada bahasa jepang  meskipun teman teman kelas menganggap aku orang ANEH. Kalau aku jadi mereka aku akan dekati orang tersebut dan kasih semangat.  















Tidak ada komentar:

Posting Komentar